Make your own free website on Tripod.com

kenshuseides_23480.gif

Kenshusei wa....?
Home
Tujuan
Anggota
Contact Us
Kegiatan
IPTEK
Informasi Kuliah
Links

Konnichiwa,
Assalamu’alaikum ww.
Gomennasai baru bisa memberi komentar,
Saya sangat senang diadakannya network ini, semoga ini bisa membawa kebaikan kedepannya.
Saya mengenal IMM 1995, ketika itu saya kuliah. Ketika saya lulus test IMM, saya tinggalkan kuliah saya. Setelah pulang dari kenshu saya tidak lagi berpikir sekolah karena Alhamdulillah  sudah diterima kerja 1 bl. Sebelum pulang ke Indonesia sampai sekarang.
Fenomena yang terjadi sekarang adalah:
Kebanyakan alumnus IMM adalah jebolan sekolah menengah !meski tidak sedikit yang juga lulusan universitas, saya tidak bisa menunjukkan persentasinya! Yg kebanyakan pengetahuannya kurang tentang mengelola uang besar !hasil kensyu, berbisnis, merintis usaha, dll. Sehingga ketika pulang banyak yg membelanjakan uang secara boros, bergaya hidup borju !termasuk saya. Yg lebih banyak untuk kepentingan sejenak !meskipun ada juga yang menjadi pengusaha sukses, tapi biasanya sudah diplaningkan/ada pendamping yang bisa dipercaya memanage uang.
Namun tanpa disadari bahwa semua itu ada berahirnya 1 thkah, 2 thkah atau berapa thn bisa bergaya mewah. !didaerah sekitar saya ada beberapa mantan kensyu yang bernasib kurang beruntung. ketika sadar modal sudah mulai menipis, mau bekerja dipabrik sulit diterima jika hanya bermodalkan ijazah menengah dan sertifikat imm tanpa ditambah keahlian lain2. !Karena kebanyakan perusahaan menerima mereka yang masih baru pulang dari kensyu, yg ini jarang jarang dipahami oleh kebanyakan kita. Artinya kalau mau jadi pekerja pabrik segera dilakukan persiapan2 & kelengkapannya termasuk kyuriyo yg akan diberikan.
Ada juga yang menjadi pengusaha tetapi gagal, modalnya dibawa lari partnernya dll. Yg kebanyakan karena kurangnya pengetahuan tentang management, diplomasi, komunikasi dll [kalo tidak boleh ngomong nasib buruk]…
Melalui network ini mari kita sharing.
Karena IMM tidak menggagas program kensyusei setelah pulang selain punya modal (bagaimana mengelola  modal yg ada, mencari peluang usahadll) & beberapa seperti juga yang ditulis sahabat Asep.
Belajar dari pengalaman yg saya alami & fenomena yg muncul dikebanyakan mantan kenshuusei setelah pulang ke negri sendiri, ada sesuatu yg terpikir dibenak saya untuk menyumbangkan sesuatu pada adik2 kita yg sedang kenshu di sana.
Saya punya masukan (mudah2an bisa di follow up) kepada moderator “ANAK NEGRI” yg gerak langkahnya lebih luas;
 A.Memberikan input pada IMM  ‘Bahwa kenshusei  sangat! Membutuhkan bekal menejerial untuk membuat mereka betul2 menjadi orang sukses kelak setelah kambali ke negri sendiri’ dengan dorongan pada IMM agar bisa & mau memberikan Pembekalan yang lebih mendalam pada seluruh Kenshusei Tentang bagaimana mengelola Uang hasil Kenshu, Kiat2 mencapai kesuksesan dalam berbisnis, memanfaatkan /mencari peluang (bisnis), pengetahuan negosiasi, etika berbisnis DLL.
Untuk teknis penyampaiannya misal diatur,
Waktu Pertemuan : 1 bulan 1 kali di Hari Minggu (4 ~ 5 jam)
  (Atau dijadwalkan, sehingga peserta lebih banyak yg bisa hadir)
Tempat          : Gedung pertemuan IMM di daerah perwakilannya.
 (dimana saja yg penting bisa sebanyak mungkin kenshuusei yg bisa mengambil nilai plusnya)
Pembicara        : Dengan mendatangkan orang yang ahli dibidangnya, saya yakin di Jepang banyak Mahasiswa dari Indonesia yang bisa diajak ‘kerjasama’ memajukan SDM anak negri sendiri atau teman2 mas Kurniawan sendiri… (untuk masalah ini mas Kurniawan paling Piawai)
(HANYA CONTOH SAJA)
Sebagai gambaran,…
[Dulu waktu menjadi kanshusei saya beberapa kali mengikuti pengajian di dekat stasiun OTSUKA daerah Tokyo, yang menggagas adalah pegawai KBRI Tokyo yang juga salah seornag editor sebuah surat kabar harian , saya lupa namanya, disana banyak berkumpul mahasiswa dari Indonesia yg pinter2 dan bersahajah (saya beberapa kali melihat juga mereka mendampingi para petinggi KBRI ketika ada acara di KBRI waktu liburan)  karena  pengajian sehingga yang dibahas berkutat masalah agama, kadang2 juga pembicaranya da’i dari Indonesia yg kebetulan didatangkan untuk mengisi acara di KBRI,saya juga beberapa kali mengikuti pertemuan IMM di gedung pertemuan IMM di Tokyo, hanya saja pertemuan tersebut ‘hambar’ menurut saya, karena ‘hanya’ diisi menyanyi, kumpul2 sama teman jauh, bertukar cerita ssma kenshusei, makan setelah itu pulang, saya tidak tahu perkembangannya sekarang]
Mungkin bisa memanfaatkan momen spt itu.
 B. Jika pada usulan pertama tidak mancapai target/(kenshusei paham betul ilmu & resiko berbisnis), atau bagi kenshusei yang tidak mendapat penempatan kerja yg cocok tidak perlu berkecil hati, tumbuhkan semangat untuk menempuh pelajaran formal kelak setelah pulang ke Indonesia (kebanykan kenshusei tidak ada semangat lagi untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi/kuliah setelah mereka mempunyai uang banyak).
Ini penting! Harus ditumbuhkan bahwa dengan sekolah Yg lebih tinggi banyak ilmu yang kita dapatkan selain tingkat kedewasaan berfikir juga pengambilan suatu keputusan yg jauh lebih matang ketimbang sebelumnya, LEBIH BANYAK TEMAN BERARTI LEBIH BANYAK RELASI YG BISA MEMUNCULKAN PELUANG2 BARU.
(sebetulnya nyesel juga sekarang kenapa dulu nggak dilanjutin dulu sekolahnya/ kerja sambil sekolah, sekarang anak akan dua jadi konsentrasi kekeluarga dululah, tapi saya masih punya keinginan unutk ambil ijazah tsb. Entah kapan???)
 Saya punya teori,
Jika kenshusei setelah pulang langsung kuliah (ambil professional/diploma) selama 2 atau 3 th, dan setelahnya sudah lahir kenshusei yg professional yg akan bisa mengelola uangnya sendiri. Bisa juga dipakai nglamar kerja tentunya dengan salary diploma.
Jika melanjutkan migrasi ke S1 (selama 1 th terambil gelar sarjana) ini bias juga dipakai modal untuk kerja di perusahaan tentunya dengan Basic Salary Sarjana.
Memang sekolah butuh modal, tapi saat kuliah juga kita bisa ambil kerja sampingan/ pasif incom (deposito misalnya bagi yg tidak ragu2 dengan bunga bank “katanya deposito untuk BANK SYARIAH HALAL wallohua’lam, atau bisnis yg tidak terlalu memakan energi untuk mengelola, beli angkot misalnya,
[unutk daearah Surabaya trayek rame +- 90 jt dpt kendaraan & trayek, 1 hari setoran 90,000 rp, 1 bln = 2,700,000  Rp.
6 bln sekali ganti ban 2, ganti oli “untuk yg dua ini saya kurang jelas” yg pasti ada temen yg mantan kenshusei ngejalanin itu dan berhasil]
Sementara itu dulu mas Kurniawan, semoga ada manfaat baiknya.
Sorry mas, kalau memungkinkan Ingatin Juga Kenshusei untuk men-Zakati hartanya, karena hanya dengan itu harta yg didapat bisa barokah dan insyaaloh selamat.

Terimakasih banyak atas perhatiannya. Minta maaf segala kekurangan.
Wassalamu’alaikum ww,
Zainul Arifin
Ang 26 / 95

Dekiru dake benkyo shite gamang shite gambarimasu...
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.