Make your own free website on Tripod.com

kenshuseides_23480.gif

Kenshusei Amin
Home
Tujuan
Anggota
Contact Us
Kegiatan
IPTEK
Informasi Kuliah
Links

Namanya Amin, lahirnya di Bone, sebuah kota kecil di pedalaman Sulawesi Selatan. Setamat STM di kotanya ia sempat bekerja di bengkel milik keluarganya, lalu kemudian mendapat berkah yang luar biasa bisa ikut magang di Jepang. Dari keluarga yang biasa2 saja dan berpenghasilan pas-pasan, ia berhasil mengangkat ekonomi keluarga selama berada di Jepang. Bapak dan Ibunya berhasil ia hajikan, rumah di kampung pun direnovasi, bahkan depan rumahnya pun sudah bisa parkir kijang bekas yang ia beli di tahun ketiga ia kerja di Jepang.



Di Jepang, ia hidup pas-pasan kalau tidak disebut hemat berlebihan. Makan telor goreng dan indomie adalah menu yang biasa. Hanya karena adanya tiket 18kippu maka ia bisa jalan-jalan ke kota-kota lain. Selebihnya nonton TV di apartemen atau nongkrong depan eki.

Sehabis magang dengan pundi-pundi masih penuh yen, ia pulang kampung. Dan dimulailah babak kebingungan dalam hidupnya. Dengan uang yang cukup banyak di rekening, ia mencoba berwiraswasta, membuka percetakan. Tapi karena order yg kurang akhirnya usaha itu tutup, pundi-pundi uang mulai berkurang. Selang kemudian ia coba usaha bengkel, mobil dijual buat modal, dulu memang ia pernah kerja2 di bengkel, tapi ternyata mengelola sendiri dengan kerja untuk orang lain itu jauh berbeda, beberapa bulan akhirnya gulung tikar, modal pun melayang. Keluarga sakit, tabungan dikuras lagi, buat nikah...lagi2 tabungan berkurang drastis, anak sakit...akhinya tabungan ludes. Sekarang ini, keadaannya kurang lebih sama dengan beberapa tahun lalu ketika ia masih seorang anak kampung yang belum pernah tahu bagaimana enaknya hamburger Mc Donald atau betapa senangnya naik pesawat bolak-balik Jakarta Makassar. Susahnya memang sama, tapi stresnya jauh berbeda.

Di dinding rumahnya yang tersisa hanya foto2nya ketika sempat bermain salju di Nagano dulu....ah...indahnya waktu kenshusei dulu.

Ya....masa magang hanya menyisakan kenangan yang indah...dan...kenyataan hidup yang pahit.



---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Dear rekan2 PPI Jepang,



Mungkin anda bertanya, siapa si Amin? Tokoh si Amin di atas adalah rekaan, tapi kenyataan yang dialaminya telah menjadi bagian dari cerita hidup puluhan ribu pemuda-pemuda Indonesia yang pernah datang ke Jepang.



Kurang lebih 3 tahun yang lalu ketika saya masih jadi peserta magang, saya terusik oleh ketidakpedulian instansi pemerintah Republik Indonesia kepada kenshusei di Jepang, pemerintah yang gaji pegawainya setiap bulan mendapat jatah dari pajak yang harus dibayar oleh kami melalui banyak sumber, sebutlah itu partisipasi devisa jutaan yen setiap bulannya melalui kiriman uang ke kampung oleh ribuan kenshusei seluruh Jepang, atau peningkatan pajak konsumsi yang ditanggung oleh keluarga di kampung yang dibiayai oleh kami para kenshusei di Jepang, atau lebih riilnya lagi, pendapatan Depag dari puluhan orang jamaah haji yang bisa beribadah lantaran dimodali anaknya yang mungkin hanya tukang las di Jepang.



Waktu itu saya sempat membuat research kecil-kecilan dan merancang sebuah program pembelajaran bagi kenshusei, dengan program itu diharapkan para kenshusei (khususnya yg bernaung di bawah IMM Japan) bisa mempersiapkan dirinya setelah masa magang selesai dan sekaligus bisa menekan angka 'pelarian' ke dunia gelap (waktu itu program tersebut saya rangkaikan dengan metode training ESQ-nya pak Ary Ginanjar yg pada saat itu baru saja dirilis dan masih feasible seandainya IMM Japan bersedia meng-approve nya). Program itu kemudian saya sampaikan ke petinggi IMM Japan Pusat dan cabang Nagoya, namun karena mereka merasa pendidikan anak bangsa Indonesia itu bukan urusan mereka, maka mereka menolak dibebani dan malah melemparkan tanggung jawab itu ke partner mereka, Depnaker RI.

Waktu itu saya masih lugu dan mengira bahwa para pejabat2 di pemerintahan kita benar2 bekerja untuk kepentingan bangsa, dengan semangat 45 saya mengutarakan isi program tersebut kepada pejabat yang paling berkompeten (Kepala Bidang Urusan Pemagangan Depnaker Pusat) yg kebetulan bisa saya temui sewaktu pulang ke Jakarta.

Tapi saya terperangah, karena dengan entengnya beliau menjawab persis sama dengan jawaban IMM Japan, hanya saja posisinya diubah, kali ini mereka melemparkan tanggung jawab itu kepada IMM Japan. Sejak saat itu saya tahu bahwa kami para mantan kenshusei harus berjuang sendiri jika ingin lebih maju.



Rekan2 sekalian,



Setelah membaca prolog di atas, mungkin ada beberapa di antara rekan yang langsung mencibir dan berkata "SO WHAT GITU LHO, itu kan cerita hidup seorang Amin" atau "itukan wajar, siapa suruh dia boros dan tidak mau menambah keterampilannya supaya bisa mencari kerja atau buka usaha yang lebih baik". Atau sederet komentar yang mungkin akan bersifat skeptis dan pesimis menyikapi keadaan ekonomi Indonesia yang memang sedang amburadul.



Tapi saya juga percaya bahwa jauh di dalam hati rekan2 sekalian, ada suara yang menyatakan empati dan simpati. Dan suara hati itulah yang ingin saya ketuk dan pasangkan microphone supaya bisa membahana dan terdengar oleh orang2 yang keputusannya atau perkataannya bisa membawa perubahan bagi nasib para kenshusei di Jepang. Insya Allah kalau rekan2 kenshusei ini bisa diberdayakan, pada gilirannya perbaikan kehidupan mereka akan membawa efek yang besar bagi perkembangan industri di tanah air.

Bagaimana membantu mereka?

Mereka tidak butuh uang, karena mungkin ada banyak di antara mereka yang punya tabungan 2 kali lipat dari kita saat ini. Setiap seorang kenshusei setelah pulang ke Indonesia minimal bisa membawa pulang 50 juta rupiah, bahkan banyak yang mencetak rekor di atas 100 juta, dan kadang2 ada yang mencapai 500 juta setelah 3 tahun.

Yang mereka butuhkan adalah bimbingan, arahan, dan pencerahan. Bagaimana me-manage dana, memulai usaha, membentuk kepribadian, dan hal-hal lain yang bersifat praktis.

Bayangkan kekuatan modal yang besar dan tersebar di seluruh Indonesia itu kalau bisa digerakkan untuk menghidupkan industri kecil-menengah di Indonesia. Ada ratusan unit usaha seluruh Indonesia yang bisa tercipta dalam setahunnya, mengingat jumlah kenshusei yang pulang mencapai angka di atas 100 orang per bulan. Dengan dana besar dan etika kerja Nihong-fuu, maka insya Allah peranan mantan kenshusei ini kalau dimaksimalkan akan cukup signifikan bagi dunia industri Indonesia. Jika industri kita maju, ekonomi akan maju, jika ekonomi maju maka insya Allah semua unsur2 lain akan ikut terkena efek baiknya.

Untuk itulah maka pada kesempatan ini, saya ingin mengajak rekan2 sekalian berpartisipasi membantu para kenshusei dengan bergabung secara aktif dalam payung organisasi kita, PPI Jepang. Alhamdulillah, pada periode 2005-2007 ini PPI Jepang memulai sebuah langkah besar dengan membentuk KOMITE TRAINEE yang diharapkan bisa menjadi lokomotif gerakan pemberdayaan potensi para kenshusei/trainee ex-Jepang. Mungkin bukan PPI yang akan mengawal perkembangan industri2 kecil-menengah yang akan bangkit dari kenshusei ini, tapi paling tidak PPI akan dicatat sebagai penarik gerbong-gerbong organisasi atau gerakan2 anak bangsa menuju industri Indonesia yang mandiri dan bersaing.

Selanjutnya perkenankan saya menggambarkan panduan program kerja yang ingin kita capai selama masa kepengurusan 2 tahun ini (file ini ada di database milis PPI Jepang)....

Dekiru dake benkyo shite gamang shite gambarimasu...
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.