Make your own free website on Tripod.com

kenshuseides_23480.gif

Nasehat untuk Kenshusei
Home
Tujuan
Anggota
Contact Us
Kegiatan
IPTEK
Informasi Kuliah
Links

NASEHAT UNTUK PARA PEKERJA

Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-Abbad Al-Badr


Alhamdulillahi rabbil 'alamin, shalawat dan salam yang sempurna bagi
pemimpin para rasul, imam orang2 bertakwa, nabi kita Muhammad
shalallahu alaihi wasallam, juga para shahabatnya dan orang2 yang
mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari kiamat.

Amma ba'd, risalah ini merupakan nasehat bagi para pekerja dan
pegawai dalam menunaikan pekerjaan yang ditetapkan pada mereka.
Diharapkan risalah ini dapat memberi manfaat dan menolong para
pekerja dalam mengikhlaskan niat, semangat dalam bekerja, dan
mengerjakan kewajibannya. Dan aku memohon taufik kepada Allah.

Ayat2 Seputar Kewajiban Menunaikan Amanat

Diantara ayat2 yang memerintahkan untuk menunaikan amanat dan
larangan berkhianat adalah firman Allah:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu, Sesunguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. (An Nisaa:58)"

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya: Allah Ta'ala menjelaskan bahwa
Dia memerintahkan untuk menunaikan menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya. Dari hadits Al Hasan dari Samurah bahwasannya
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Sampaikan amanat
kepada yang memberikannya kepadamu dan jangan khianati yang
mengkhianatimu" riwayat Imam Ahmad dan ahli sunan.

Dalil ini mencakup seluruh amanat yang wajib ditunaikan setiap
orang, yaitu hak2 Allah 'Azza wa Jalla pada hambanya berupa shalat,
zakat, puasa, kafarat, nadzar, dan lainnya yang diamanatkan padanya
tidak datang amanat ini kepada seorang hamba.

Termasuk juga hak2 sesama manusia seperti titipan dan lainnya yang
diamanatkan padanya tanpa melihat niatannya tersebut. Maka
Allah 'Azza wa Jalla memerintahkan untuk menunaikannya. Siapa yang
tidak menunaikannya di dunia, dia akan diazab di hari kiamat.

Allah berfirman: "Wahai orang2 beriman, jangan kalian mengkhianati
Allah dan RasulNya serta mengkhianati amanah kalian, padahal kalian
mengetahuinya". Berkata Ibnu Katsir: "Khianat disini mencakup semua
dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar, lazim ataupun muta'addi.
Berkata Ali bin Abi Thalhah: "jangan mengkhianati amanah kalian",
amanah yang dimaksud adalah amalan2 yang diamanatkan Allah pada
hambaNya berupa kewajiban fardhu.

Dia berkata: "jangan mengkhianati" artinya jangan membatalkan amanat.

Dalam riwayat lain dia berkata: "jangan mengkhianati Allah dan
RasulNya" yakni dengan meninggalkan sunnahnya dan mengerjakan
maksiat."

Allah berfirman: "Kami tawarkan amanat kepada langit, bumi, dan
gunung2, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka
khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu pada
manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh". (Al
Ahzab 72)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah setelah mengungkapkan pendapat para
ahli tafsir tentang tafsir amanat, yaitu makna diantaranya adalah
ketaatan, kewajiban2, agama, dan hudud. Maka dia berkata: Semua
pendapat ini tidak saling bertolak belakang, bahkan saling
mendukung. Yaitu maknanya kembali pada beban taklif, ketundukkan,
perintah dan larangan beserta syarat2nya. Maka siapa yang
melaksanakannya mendapat pahala, adapun yang meninggalkan akan
disiksa. Maka amanah tersebut dipikul oleh manusia padahal mereka
lemah, bodoh, dan zhalim - kecuali orang2 yang menjalankan perintah
Allah.

Allah berfirman: "Dan orang2 yang memelihara amanat2 (yang
dipikulnya) dan janjinya." (al Ma'arij:32).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, "Jika diberi amanat dia tidak
mengkhianati, jika dia berjanji maka tidak mengingkari. Ini adalah
sifatnya kaum mukminin. Berbeda dengan kaum munafik sebagaimana
diriwayatkan dalam hadits yang shahih:

Ciri orang munafik ada tiga: "Jika berbicara dia berdusta, jika
berjanji dia mengingkari, dan jika dipercaya (amanat) dia
berkhianat". Dalam riwayat lain: "Jika berbicara dia berdusta, jika
berjanji dia meninggalkan, jika berselisih dia berbuat jahat,".

Cukup banyak hadits2 rasul shalallahu 'alaihi wa sallam yang
berbicara seputar menunaikan amanat dan ancaman meninggalkannya,
diantaranya:

1. Dari Abu Hurairah رضٍ اففم غلم dia berkata: "Tatkala kami dalam
suatu majelis mendengarkan Nabi berbicara bersama satu kaum, datang
seorang arab badui. Dia berkata: "Kapan terjadinya kiamat". Maka
Rasulullah teus berbicara dengan kaum itu sampai sebagian mereka
berkata: Nabi mendengar pertanyaannya, tapi membenci pertanyaan
tersebut. Berkata yang lain: Bahkan Nabi belum dengar pertanyaannya.
Sampai ketika beliau selesai bicara dengan mereka, dia
berkata, "Siapa yang bertanya tentang hari kiamat?". Dijawab, "saya
ya Rasulullah". Nabi berkata, "Jika amanat ditinggalkan, maka
tunggulah waktunya kiamat". Dia bertanya, "Bagaimana amanat
ditinggalkan?" Nabi berkata, "Jika suatu perkara diserahkan kepada
yang bukan ahlinya maka tunggulah waktunya kiamat". (HR. Bukhari:59)

2. Dari Abu Hurairah رضٍ اففم غلم dia berkata, Rasulullah
bersabda, "Sampaikan amanat kepada yang memberikannya kepadamu dan
jangan khianati yang mengkhianatimu" (HR. Abu Daud: 3535, Tirmidzi:
1264, dia berkata, "Hadits Hasan Gharib", lih. Silsilah Shahihah Al
Albany:424)

3. Dari Anas رضٍ اففم غلم dia berkata, Rasulullah bersabda, "Pertama
kali yang hilang dari agama kalian adalah amanat dan yang terakhir
adalah Shalat". (HR. Al Kharaithi dalam Makarimul Akhlaq:28, lih.
Silsilah Shahihah Al Albany:1739)

4. Dari Abu Hurairah رضٍ اففم غلم dari Nabi berkata, "Ciri orang
munafik ada tiga: "Jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia
mengingkari, dan jika dipercaya (amanat) dia berkhianat". (HR.
Bukhari: 33, Muslim: 107).

Pegawai yang mengerjakan Tugasnya dengan Sungguh2 dan Ikhlas
Mendapat Ganjaran di Dunia dan Akherat

Jika seorang pegawai menunaikan tugasnya sungguh2 dalam rangka
mengharap pahala Allah, terlepaslah ikatan kewajibannya dan berhak
atas pahala dari pekerjaannya di dunia dan akherat. Hal ini
berdasarkan dalil2 yang menunjukkan pahala dan ganjaran yang
diperoleh seseorang dari pekerjaan yang dikerjakan dengan
perhitungan dan mengharap wajah Allah. Allah berfirman:

"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan2 mereka, kecuali
bisikan2 dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau
berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan
siapa yang berbuat demikian karena mencari keredaan Allah, maka
kelak Kami memberikan kepadanya pahala yang besar". (An Nisaa':114)

Diriwayatkan dalam Al Bukhari (55) dan Muslim (1002) dari Abi Mas'ud
bahwa Rasulullah bersabda, "Jika seseorang menginfakkan hasil
kerjanya kepada keluarganya maka hal itu merupakan sedekah".

Beliau juga berkata kepada Saad bin Abi Waqash, "Tidaklah kamu
infakkan nafkah dalm rangka mengharap wajah Allah kecuali akan
diberi pahala sekalipun hanya suapan yang kamu suapkan ke istrimu"
(HR Bukhari (5354), Muslim (1628)).

Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa seorang muslim mendapat pahala
jika melaksanakan kewajibannya semata-mata mengharap wajah Allah.

Menjaga Waktu Khusus untuk Bekerja Demi Lancarnya Pekerjaan

Wajib bagi setiap pekerja dan pegawai menyibukkan diri pada waktu
kerja khusus pada pekerjaannya, maka tidak boleh melaksanakan urusan
lain yang tidak berkaitan dengan kewajibannya. Tidak boleh pula
menghabiskan waktu dalam urusan pribadinya atau urusan kawannya jika
tidak ada hubungan dengan pekerjaannya. Hal ini karena waktu kerja
itu bukan milik pegawai atau pekerja, tetapi untuk menyelesaikan
tugas yang memang digaji untuk itu.

Syaikh Al Ma'mar bin Ali Al Baghdadi (wafat tahun 507 H) pernah
memberi nasehat tentang aturan Kementerian Kerajaan:

"Wahai pemimpin Islam! Seorang kepala pemerintahan itu dipilih untuk
suatu tujuan dan sebagai utusan. Maka jika mereka mau akan dipilih,
jika tidak maka dipecat. Maka siapa yang dipilih sebagai kepala
pemerintahan dia tidak boleh memilih tujuan dan untuk apa dia
diutus. Karena dia adalah pemimpin yang sesungguhnya digaji, maka
waktunya telah dibeli dan diapun menikmati gajinya. Maka tidak ada
waktu siangnya yang bebas digunakan sekehendaknya sekalipun untuk
shalat sunnah ataupun beri'tikaf. Karena hal itu sunnah, sedangkan
menunaikan tugasnya adalah wajib."

Kemudian dia berkata, "Maka diami kuburmu sebagaimana dulu kamu
diami istanamu". (Dzil thabaqatul hanabilah oleh Ibnu Rajab, I/107)

Sebagaimana orang yang ingin mengambil upahnya penuh, dia tidak mau
upahnya dipotong. Jika demikian, maka tidak boleh pula dia
menggunakan waktu kerjanya selain menyelesaikan tugas. Allah telah
mencela al Muthaffifin (orang2 yang curang) dalam urusan takaran dan
timbangan.  Mereka minta hak mereka dipenuhi tapi dengan mengurangi
hak2 pihak lain. Maka Allah berfirman:

"Kecelakaan besarlah bagi orang2 yang curang. (Yaitu) Orang2 yang
apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan
apabila mereka menakar atau menimbang dari orang lain mereka
mengurangi. Tidakkah orang2 itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan
dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika)
manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?" (QS.Al Muthaffifin: 1-
6).

Memilih Pekerja dan Pegawai

Hal terpenting dalam memilih pekerja dan pegawai adalah hendaknya
memilih yang kuat dan dapat dipercaya (amanah). Dengan kekuatan
memungkinkan pekerja menyelesaikan tugasnya dan dengan melihat ke-
amanatan menjadikan pekerja menyelesaikan tugas untuk lepas dari
kewajiban. Sebab dengan sifat amanah maka segala sesuatu diletakkan
pada proporsinya, sedangkan dengan kekuatan memungkinkan selesainya
kewajiban.

Allah menceritakan tentang kisah salah satu gadis dari kedua anak
perempuan bapak dari negeri Madyan tatkala berkata pada ayahnya
setelah Musa 'alaihissalam memberi minum ternak mereka "Ya bapakku,
ambillah ia sebagai orang yang bekerja pada kita, sesungguhnya yang
paling baik untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi
dapat dipercaya". (Al Qashash:26).

Allah juga menceritakan tentang kisah Ifrit dari golongan Jin yang
menyatakan kesanggupan membawa singgasana Bilqis pada Nabi
Sulaiman 'alaihissalam, "Aku akan datang kepadamu dengan membawa
singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu.
Sesungguhnya aku benar2 kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya".
(An Naml:39).

Maknanya, sesungguhnya Ifrit menggabungkan antara kemampuan untuk
mengangkut dan mendatangkan singgasana dan isinya dengan utuh.

Allah juga menceritakan tentang kisah Yusuf 'alaihissalam ketika
berkata pada raja, "Jadikanlah aku bendaharawan negara, sesungguhnya
aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan" (Yusuf:55).

Lawan dari kuat dan amanah adalah lemah dan khianat, yaitu penyebab
paling utama ketidakberesan kerja dan jadi alasan yang paling utama
untuk memecat.

Umar bin Kaththab رضٍ اففم غلم memilih Sa'ad bin Abi Waqqash رضٍ
اففم غلم sebagai amir di Kufah. Tatkala sebagian orang yang dengki
pada Sa'ad mengadukan hal2 dusta pada Umar, maka Umar berpandangan
bahwa memecat Sa'ad lebih mashlahat demi menghindari fitnah dan
supaya orang2 tidak menganiaya Sa'ad. Tetapi ketika beliau sakit
yang menyebabkan kematiannya, Umar memilih 6 sahabat Rasulullah
sebagai calon pengganti khalifah setelahnya, sedangkan Sa'ad
termasuk salah satu kandidat. Beliau khawatir Sa'ad menyangka bahwa
alasannya memecat Sa'ad dahulu karena ketidakberesan mengatur
wilayah. Maka hilanglah persangkaan itu dengan perkataan Umar, "Jika
Sa'ad terpilih menjadi pemimpin maka dia memang layak, tetapi jika
tidak maka- wahai sekalian- mintalah bantuannya dalam dalam berbagai
perkara, aku dahulu  memecatnya bukan karena dia lemah dan khianat"
(HR Bukhari: 3700).

Dalam shahih Muslim (1825) dari Abu Dzar berkata, "Aku
berkata, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak pekerjakan aku? Maka
beliau menepuk pundakku dan berkata, "Wahai Abu Dzar, kamu itu
lemah, padahal pekerjaan itu sebuah amanah dan pada hari kiamat
nanti cuma akan menjadi penyesalan kecuali bagi yang menunaikan hak
dan tanggung jawabnya."

Dalam riwayat lain (1826) dari Abu Dzar bahwa Rasulullah shalallahu
alaihi wasallam berkata, "Ya Abu Dzar, menurutku kamu itu lemah,
sedangkan aku suka bagimu seperti apa yang aku inginkan bagi diriku.
Maka jangan kamu memerintah diantara dua dan jangan pula menjadi
pengurus harta anak yatim".

Pegawai Senior Teladan dalam Kesungguhan dan Kemalasan

Jika pegawai senior mengerjakan tugasnya dengan sempurna maka ia
akan diikuti yuniornya, bahkan para petinggi akan membicarakan
prestasinya. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Setiap
kalian adalah pemimpin dan nanti akan ditanya tentang
kepemimpinannya. Maka seorang penguasa dia menjadi pemimpin bagi
rakyatnya dan dia akan ditanya. Adapun laki2 menjadi kepala rumah
dan dia akan ditanya, sedangkan istrinya bertanggung jawab mengurus
rumah dan anak2nya dan dia akan ditanya. Seorang hamba pemimpin atas
harta majikannya dan dia akan ditanya. Ketahuilah, setiap kalian
adalah pemimpin dan dia akan ditanya akan kepemimpinannya." (HR.
Bukhari (2554), Muslim (1829) dari Abdullah bin Umar)

Jika para senior senantiasa konsisten sepanjang kerjanya maka akan
menjadi teladan bagi yang lain. Dikatakan oleh penyair, "Jika engkau
bolos engkau bukan lagi pemimpin suatu urusan, lenyap segala
kepemimpinannya diganti oleh yang lain"

Maknanya jika kamu memerintah bawahanmu mengerjakan tugas, sedangkan
kamu telah lebih dulu mengerjakannya, maka mereka akan menurut
segala perintahmu.

Perlakukan Orang Agar Diperlakukan yang Sama

Nasihat memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam sebagaimana
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Agama itu nasihat,
dikatakan, "Untuk siapa ya Rasulullah?" dijawab, "Untuk Allah,
KitabNya, RasulNya, Pemimpin kaum muslim dan rakyatnya" (HR. Muslim
(55) dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari.

Berkata Jarir bin Abdullah Al Bajali, "Kami berbai'at pada
Rasulullah untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menasehati
setiap muslim" (HR. Bukhari (57), Muslim (56)).

Setiap pekerja jika sedang butuh bantuan orang lain maka dia ingin
dilayani dengan baik. Demikian juga sebaliknya, dia juga harus
melayani orang lain dengan baik. Rasulullah shalallahu alaihi
wasallam bersabda, "Siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan
dimasukkan ke surga maka datangilah takdirnya, yaitu beriman pada
Allah dan Hari Akhir. Dan datangilah manusia sebagaimana kamu ingin
didatangi olehnya". (HR. Muslim (1844) dalam hadits yang panjang
dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma). Maknanya perlakukanlah
orang sebagaimana kamu ingin jika dilayani orang itu.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Tidak beriman
seseorang sampai dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana
mencintai untuk dirinya". (HR. Bukhari (13), Muslim (45) dari Anas)

Allah mencela orang yang melayani orang lain dengan buruk tetapi
inginnya dilayani sebaik2nya, sebagaimana firmanNya: "Kecelakaan
besarlah bagi orang2 yang curang. (Yaitu) Orang2 yang apabila
menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila
mereka menakar atau menimbang dari orang lain mereka mengurangi."
(QS. Al Muthaffifin:1-3)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Allah Azza wa Jalla
mengharamkan kalian mendurhakai ibu, mengubur bayi hidup2 dan sangat
membenci tiga hal: mendengarkan kabar burung, banyak bertanya, dan
menyia-nyiakan harta" (HR. Bukhari (2408), Muslim (593) dari
Mughirah bin Syu'bah)

Dalam hadits ini terkandung larangan mengumpul2 harta dan pelit,
yaitu mengambil bagiannya tetapi tidak mau membaginya untuk sesama.
Allah menyebutkan tentang penanggung anak2 yatim tentang
kekhawatiran mereka untuk meninggalkan keturunan mereka yang masih
kecil. "Dan hendaklah takut kepada Allah orang2 yang seandainya
meninggalkan dibelakang mereka anak2 yang lemah, yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah
mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar." (QS. An Nisaa:9).

Maknanya, sebagaimana mereka ingin mengurus keturunan mereka yang
lemah dengan baik, maka begitu pula hendaknya dalam mengurus anak
yatim yang mereka tanggung.

Dahulukan Antrian Paling Awal

Termasuk keadilan adalah tidak mengakhirkan permintaan pekerja yang
datang awal atau sebaliknya, mendahulukan permintaan pekerja yang
datang akhir. Hendaknya layani kebutuhan pekerja dari sisi antrian
pertama sehingga ada kelapangan bagi para pekerja dan mereka yang
sedang mengajukan permintaan. Hal ini dijelaskan dalam sunnah Rasul
melalui sahabat Abu Hurairah,

"Tatkala kami dalam suatu majelis bersama Rasulullah yang sedang
berdialog dengan suatu kaum, datang seorang arab badwi sembari
berkata, "Kapankah Hari Kiamat?".

Rasulullah terus melanjutkan dialognya sampai sebagian orang2
berkata, "Nabi dengar tetapi membenci pertanyaan tersebut".

Sebagian lain menyahut, "Bahkan sebetulnya Nabi tidak dengar".

Sampai ketika dialog beliau selesai, beliau berkata,"Mana yang tadi
bertanya tentang kiamat?".

Dijawab, "Saya, wahai Rasulullah".

Maka Nabi berkata, "Jika sifat amanah telah disia-siakan maka
tunggulah saatnya kiamat"

Penanya berkata, "Bagaimana bisa disia-siakan?"

Maka Nabi berkata, "Jika suatu urusan diserahkan pada yang bukan
ahlinya maka tunggulah saatnya kiamat" (HR. Bukhari (59))

Dari hadits ini disimpulkan bahwa Rasulullah tidak suka untuk segera
menjawab penanya tentang Hari Kiamat kecuali setelah selesai
urusannya berdialog dengan kaum lebih dahulu datang. Berkata Al
Hafizh Ibnu Hajar dalam penjelasan hadits ini, "Dari hadits ini
diambil pelajaran tentang mendahulukan yang awal. Begitu juga dalam
memberi fatwa, menetapkan hukum dan lain-lain".

Dijelaskan pada riwayat hidup Imam Abu Ja'far Ibnu Jarir Ath thabari
dalam Lisanul Mizan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar, "Diriwayatkan oleh
Ibnu Asakir dari jalan Abu Ma'bad Utsman bin Ahmad Ad Dainuri, dia
berkata, "Aku menghadiri majelis Muhammad bin Jarir. Kemudian datang
seorang Menteri bernama Al Fadhl bin Ja'far bin Al Furat, padahal
dia sudah kedahuluan seseorang. Maka Ath Thabari berkata pada orang
itu, "Kamu sudah membaca?". Kemudian beliau berisyarat pada Menteri
lalu berkata, "Jika sekarang giliranmu maka tidak usah pedulikan
tentang Dijlah  maupun Furat".

Aku katakan, "Ini merupakan keutamaan dan kefasihan beliau yang
tidak berpaling kepada anak-anak dunia".

(Dijlah atau Tigris adl. nama sungai di Baghdad, begitu juga Furat.
Ini adalah sindiran terhadap Menteri Al Furat-pent)

Keutamaan Sifat iffah (menjaga kehormatan diri) dan Anti Suap Maupun
Hadiah bagi Pekerja

Setiap pekerja wajib menjaga kehormatan (iffah) dan kemuliaan diri,
kaya hati, serta jauh dari sifat memakan harta manusia dengan cara
batil. Hal ini contohnya seperti sogokan (risywah) sekalipun namanya
diganti, jika diambil dengan cara yang tidak benar lagi batil maka
menjadi sebab tidak terkabulnya do'a. Diriwayatkan dalam shahih
Muslim (1015) dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi
wasallam bersabda, "Wahai manusia!! Sesungguhnya Allah itu baik dan
tidak menyukai selain kebaikan. Allahpun memerintahkan semua muslim
sebagaimana memerintahkan para Rasul dalam firmannya, "Wahai Para
Rasul sekalian, makanlah dari yang baik-baik dan beramal saleh.
Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui semua yang kalian kerjakan"

Allah juga berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang
baik-baik dari rizki yang Kami berikan". Kemudian beliau
menceritakan tentang seseorang yang dari perjalanan jauh dengan
rambut acak-acakan menengadahkan tangannya ke langit sembari
berkata, "Ya Tuhanku! Ya Tuhanku!. Padahal makanannya dari yang
haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan
dia tumbuh dari yang haram. Maka bagaimana mungkin dikabulkan?"

Dalil paling jelas yang melarang kita untuk memakan harta manusia
dengan cara batil sebagaimana diriwayatkan Al Bukhari dalam
shahihnya (7152) dari Jundub bin Abdullah berkata, "Sesungguhnya bau
yang pertama muncul dari seorang manusia berasal dari perutnya.
Siapa yang mampu untuk tidak memakan kecuali dari yang baik-baik
maka lakukanlah. Siapa yang mampu untuk tidak memalingkan antara
dirinya dengan  surga melalui dua telapak tangan penuh berisi darah
yang dia tumpahkan maka lakukanlah".

Diriwayatkan juga dari Bukhari (2083) dari Abu Hurairah bahwa Nabi
bersabda, "Akan datang suatu zaman tatkala manusia tidak peduli
dengan asal harta yang dia dapatkan apakah dari yang halal atau
haram".

Bagi orang-orang ini, yang disebut halal itu jika bisa diraih,
adapun Haram adalah apa yang tidak bisa sampai ke tangan mereka.
Adapun menurut Islam, Halal itu adalah apa yang dihalalkan Allah dan
RasulNya, sedangkan Haram adalah apa yang diharamkan Allah dan
RasulNya.

Diriwayatkan dalam sunnah-sunnah Rasul tentang larangan bagi para
pekerja dan pegawai untuk menerima apapun sekalipun
dinamai "hadiah". Diriwayatkan dari Abu Humaid As Sa'idi bahwa
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah memperkerjakan
seseorang dari Bani Asad bernama Ibnu Latbiah untuk mengambil;
sedekah. Maka tatkala kembali dari tugasnya dia berkata, "Ini bagian
untuk kalian sedangkan ini bagian yang kuhadiahkan untukku".

Kemudian Rasulullah naik mimbar dan memuji Allah kemudian
berkata, "Apa hak pegawai yang aku utus untuk berkata "Ini bagian
untuk kalian sedangkan ini bagian yang kuhadiahkan untukku". Kenapa
dia tidak duduk saja dirumah bapaknya atau ibunya sampai itu
dihadiahkan ke dia atau tidak? Demi Yang jiwa Muhammad di tanganNya!
Tidaklah salah seorang kalian mengambil sesuatu darinya kecuali akan
datang hari kiamat nanti sambil menggotong unta di lehernya sambil
melenguh atau sapi sambil melenguh atau kambing sambil mengembik.
Kemudian dia mengangkat tangannya sampai terlihat ketiaknya lalu
berkata, "Ya Allah, Bukankah telah aku sampaikan? Dua kali"  (HR.
Bukhari (7174), Muslim (1832) dan ini lafazh Muslim)

Dan dalam shahih Bukhari (3073) dan Muslim (1831) dari lafazh Muslim
dari Abu Hurairah berkata, "Pada suatu hari Rasulullah berdiri
diantara kami, kemudian beliau menyebutkan tentang bahaya dan
keburukan ghulul (tipu daya), dia berkata, "Akan datang salah satu
dari kalian pada hari kiamat dengan membawa onta yang melenguh di
pundaknya." Seseorang berkata, "Ya Rasulullah, mintakanlah
pertolongan untukku". Rasulullah berkata, "Aku tidak bisa
menolongmu, bukankah telah aku sampaikan. Akan datang salah satu
dari kalian pada hari kiamat dengan membawa kuda yang meringkik di
pundaknya." Seseorang berkata, "Ya Rasulullah, mintakanlah
pertolongan untukku". Rasulullah berkata, "Aku tidak bisa
menolongmu, bukankah telah aku sampaikan. Akan datang salah satu
dari kalian pada hari kiamat dengan membawa kambing yang mengembik
di pundaknya." Seseorang berkata, "Ya Rasulullah, mintakanlah
pertolongan untukku". Rasulullah berkata, "Aku tidak bisa
menolongmu, bukankah telah aku sampaikan. Akan datang
salah satu dari kalian pada hari kiamat dengan membawa jiwa yang
berteriak di pundaknya." Seseorang berkata, "Ya Rasulullah,
mintakanlah pertolongan untukku". Rasulullah berkata, "Aku tidak
bisa menolongmu, bukankah telah aku sampaikan. Akan datang salah
satu dari kalian pada hari kiamat dengan membawa Riqa' di
pundaknya." Seseorang berkata, "Ya Rasulullah, mintakanlah
pertolongan untukku". Rasulullah berkata, "Aku tidak bisa
menolongmu, bukankah telah aku sampaikan. Akan datang salah satu
dari kalian pada hari kiamat dengan membawa ash-shamit di
pundaknya." Seseorang berkata, "Ya Rasulullah, mintakanlah
pertolongan untukku". Rasulullah berkata, "Aku tidak bisa
menolongmu, bukankah telah aku sampaikan."

Riqa dalam hadits ini artinya pakaian, sedangkan Ash Shamit adalah
emas dan perak.

Dan aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memberi taufik bagi
para pekerja dan pegawai kaum muslimin untuk menunaikan tugasnya
dengan cara yang diridhai Allah Tabaraka wa Ta'ala dan meraih pahala
dan hasil yang baik di dunia dan akhirat.

Shalawat, salam, dan berkah untuk hambaNya dan RasulNya Nabi
Muhammad, serta keluarga dan pengikutnya.

sumber: Assunnah.or.id

Dekiru dake benkyo shite gamang shite gambarimasu...
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.