Make your own free website on Tripod.com

kenshuseides_23480.gif

Culture Shock
Home
Tujuan
Anggota
Contact Us
Kegiatan
IPTEK
Informasi Kuliah
Links

Culture Shock

Siapa pun yang berhadapan dengan suatu kebudayaan asing, tanpa kecuali mengalami apa yang disebut "culture shock". Seseorang yang ditempatkan diluar negeri yang telah maju semisalnya, menjelang tiba di tempat yang dituju, menggambarkan suatu kehidupan yang santai dan cukup, serba modern dan segala kemudahan tersedia. Dia menggambarkan suatu kehidupan yang penuh gembira dan pengalaman manis.

Tetapi tidak lama dia berdiam di tempat baru, dan debaran jantung sudah mulai mereda, dia merasa kehilangan tempat berpijak. Seleranya menginginkan makanan tertentu, rujak, pecel, dodol atau gudek. Semuanya itu tidak dapat dibelinya, dia ingin "ngobrol" sambil melakukan kebiasaannya sehari-hari seperti makan kacang, merokok, main catur, main gitar, ngemil dsb. Namun teman "ngobrol" tersebut tidak didapatkannya. Barang-barang makanan yang didapatkan dari tempat asalnya telah habis. Dia mulai merasa ingin mendengarkan lagu-lagu keroncong, dendang-dendang kampung. Dia tidak dapat mendengarkannya dari siaran-siaran televisi atau radio setempat. Dalam suasana demikian, dia merasa terpencil dan perasaan ingin pulang ke tanah air mulai mengisi dadanya. Perasaan demikian itu timbul dari pengalaman yang dinamakan "culture shock"

Tanda-tanda "culture shock"

  1. Walaupun perut lapar, tidak ada nafsu makan
  2. Biarpun biasanya sehat-sehat saja, tiba-tiba merasakan sakit gigi, jantung sering merasa berdebar-debar
  3. Pada malam hari tidak bisa tidur
  4. Seseorang yang biasanya ramah dan sabar, entah apa sebabnya jadi suka tidak sabar dan jadi pemarah
  5. Ada yang memperlihatkan perilaku yang bukan-bukan
  6. Mulai melakukan kebiasaan buruk sebelumnya lebih banyak dari biasanya
  7. Selalu menginginkan makanan tempat asal dia tinggal
  8. Selalu mengatakan "Saya tidak suka tinggal disini" atau "Disini sama sekali tidak ada yang menyenangkan"
  9. Tidak suka bepergian sendiri dan condong berjalan dalam rombongan

Perilaku yang diakibatkan "culture shock" terlihat merupakan bentuk luapan emosi dan keletihan-keletihan secara fisik dan mental. Walaupun memang terlihat sebagai keletihan fisik seperti sakit, tetapi tidak dapat dilakukan diagnosa pengobatan secara konvensional menggunakan obat-obatan, yang biasa dilakukan oleh dokter ketika menangani pasien. Dokter yang tidak memahami, dapat berakibat salah melakukan diagnosa atau bahkan memperparah kondisi yang bersangkutan.

kiriman: alto_is_back@....

Dekiru dake benkyo shite gamang shite gambarimasu...
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.