Make your own free website on Tripod.com

kenshuseides_23480.gif

TEKNIK BUDIDAYA RUMPUT LAUT DENGAN METODE TALI PANJANG
Home
Tujuan
Anggota
Contact Us
Kegiatan
IPTEK
Informasi Kuliah
Links

Oleh :
Wisnu Sujatmiko dan Wisman Indra Angkasa




Salah satu sumberdaya hayati laut Indonesia yang cukup potensial adalah rumput laut atau dikenal dengan sebutan lain ganggang laut, seaweed atau atau agar-agar. Salah satu dari jenis rumput laut yang sudah dibudidayakan secara intensif adalah Eucheuma sp di wilayah perairan pantai.

Hasil proses ekstraksi rumput laut banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau sebagai bahan tambahan untuk industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, kertas, cat dan lain-lain. Selain itu digunakan pula sebagai pupuk hijau dan komponen pakan ternak maupun ikan.

Dengan semakin luasnya pemanfaatan hasil olahan rumput laut dalam berbagai industri, maka semakin meningkat pula kebutuhan akan rumput laut Eucheuma sp sebagai bahan baku. Selain untuk kebutuhan ekspor, pangsa pasar dalam negeri cukup penting karena selama ini industri pengolahan rumput laut sering mengeluh kekurangan bahan baku. Melihat peluang tersebut, pengembangan komoditas rumput laut memiliki prospek yang cerah karena memiliki nilai ekonomis yang penting dalam menunjang pembangunan perikanan baik kaitannya dengan peningkatan ekspor non migas, penyediaan bahan baku industri dalam negeri, peningkatan konsumsi dalam negeri maupun meningkatkan pendapatan petani/nelayan serta memperluas lapangan kerja.

Budidaya rumput laut Eucheuma sp yang sudah biasa dilakukan oleh petani/nelayan adalah dengan menggunakan metode rakit apung (floating raft method) dan metode lepas dasar (off bottom method), metode ini sangat tepat diterapkan pada areal perairan antara interdal dan subtidal dimana pada saat air surut terendah dasar perairan masih terendam air serta lebih banyak memanfaatkan perairan yang relatif dangkal. Oleh karena itu untuk melakukan pengembangan budidaya rumput laut tersebut sangat terbatas apalagi beberapa lokasi perairan pantai di Indonesia pada waktu surut terendah dasar perairannya kering. Dengan demikian perlu adanya metode lain yang bisa memanfaatkan perairan-perairan yang relatif dalam yang selama ini kurang dimanfaatkan walaupun sebenarnya mempunyai potensi lebih besar apabila dimanfaatkan secara optimal.

Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai teknik budidaya rumput laut Eucheuma sp di perairan pantai dengan metode tali panjang (longline method) yang dapat diterapkan diperairan yang relatif dalam maupun perairan dangkal yang mempunyai keunggulan-keunggulan tertentu dibanding-kan dengan metode lain. Metode ini sudah diterapkan dan dimasyarakatkan kepada petani/nelayan rumput laut di Propinsi Nusa Tenggara Barat dan memberikan hasil yang menggembirakan.

Persyaratan lokasi dan lahan

Lahan budidaya Eucheuma sp yang cocok terutama sangat ditentukan oleh kondisi ekologis yang meliputi kondisi lingkungan fisik, kimia dan biologi. Adapun persyaratan lahan budidaya Eucheuma sp adalah :

* Lokasi budidaya harus terlindung dari hempasan langsung ombak yang kuat.
* Lokasi budidaya harus mempunyai gerakan air yang cukup. Kecepatan arus yang cukup untuk budidaya Eucheuma sp 20 – 40 cm/detik.
* Dasar perairan budidaya Eucheuma sp adalah dasar perairan karang berpasir.
* Pada surut terendah lahan budidaya masih terendam air minimal 30 cm.
* Kejernihan air tidak kurang dari 5 m dengan jarak pandang secara horisontal.
* Suhu air berkisar 27 – 30 oC dengan fluktuasi harian maksimal 4oC.
* Salinitas (kadar garam) perairan antara 30 – 35 permil (optimum sekitar 33 permil).
* pH air antara 7 – 9 dengan kisaran optimum 7,3 – 8,2
* Lokasi dan lahan sebaiknya jauh dari pengaruh sungai dan bebas dari pencemaran.
* Sebaiknya dipilih perairan yang secara alami ditumbuhi berbagai jenis makro algae lain seperti Ulva, Caulerpa, Padina, Hypnea dan lain-lain sebagai sp indikator.

Bibit

# Bibit harus dipilih dari thallus yang muda, segar, keras, tidak layu dan kenyal.
# Berat bibit pada awal penanaman + 100 gram per ikat.
# Bibit sebaiknya disimpan di tempat yang teduh dan terlindung dari sinar matahari atau direndam di laut dengan menggunakan kantong jaring.

Metode tali panjang

Metode tali panjang (long line method) pada prinsipnya hampir sama dengan metode rakit tetapi tidak menggunakan bambu sebagai rakit, tetapi menggunakan tali plastik dan botol aqua bekas sebagai pelampungnya. Metode ini dimasyarakatkan karena selain lebih ekonomis juga bisa diterapkan di perairan yang agak dalam. Keuntungan metode ini antara lain:

* tanaman cukup menerima sinar matahari;
* tanaman lebih tahan terhadap perubahan kualitas air;
* terbebas dari hama yang biasanya menyerang dari dasar perairan;
* pertumbuhannya lebih cepat;
* cara kerjanya lebih mudah;
* biayanya lebih murah;
* kualitas rumput laut yang dihasilkan baik.

Saat ini para petani/nelayan di perairan NTB umumnya mengem-bangkan usaha budidaya rumput laut Eucheuma sp dengan metode tali panjang, dan tentunya metode ini dapat diterapkan dan dikembangkan oleh petani/nelayan di wilayah lain di Indonesia. Persiapan pembuatan kontruksinya yang meliputi persiapan lahan dan peralatan sebagai berikut :

a. Material

# Tali plastik diameter 9 mm (sebagai tali utama dan tali jangkar).
# Tali plastik diameter 4 mm (sebagai tali ris tempat untuk mengikatkan bibit).
# Tali rafia (sebagai pengikat bibit).
# Bibit rumput laut (jenis Eucheuma sp ).
# Botol plastik bekas/gabus (sebagai pelampung).
# Patok bambu/kayu atau batu karang (sebagai jangkar).
# Pisau.
# Perahu.

b. Prosedur

# Ukuran unit yang dipakai biasanya 15 x 30 m2.
# Siapkan material budidaya seperti yang tersebut pada butir a.
# Potong tali ris sepanjang 30,5 m sebanyak 15 buah.
# Potong tali utama sepanjang 17 m sebanyak 2 buah.
# Potong tali jangkar yang panjangnya disesuaikan dengan kedalaman perairan pada waktu pasang tertinggi sebanyak 4 buah.
# Rentangkan kedua tali utama pada lokasi perairan yang telah dipilih dengan posisi saling berhadapan dengan jarak 30 m dan ikatkan tali jangkar pada kedua ujungnya yang sebelumnya dibebani batu karang atau diikatkan pada patok bambu/kayu yang ditancapkan sebelumnya kemudian disudut-sudutnya dipasang pelampung.
# Ikat bibit yang telah diseleksi dengan tali rafia dengan berat masing-masing sekitar 100 gram/ikat kemudian bibit tersebut diikatkan pada tali ris.
# Jarak tiap ikat bibit yang diikatkan pada tali ris sekitar 25 cm kemudian setelah semua tali ris terisi oleh bibit maka segera diangkut menuju lokasi budidaya dengan perahu.
# Rentangkan tali ris kemudian ikatkan pada tali utama dikedua ujungnya dengan jarak masing-masing tali ris sekitar 1 m.
# Pengikatan tali ris pada tali utama disesuaikan sehingga jarak tanaman dari permukaan air sekitar 30 sampai 50 cm.
# Setelah tali ris diikat semua maka ikatkan pelampung botol plastik bekas pada tali ris, masing-masing ris sebanyak 10 buah dengan jarak sekitar 3 m.

Untuk lebih jelasnya mengenai budidaya Eucheuma sp dengan metode tali panjang dapat dilihat pada gambar 1.

Perawatan dan panen

Dalam usaha budidaya rumput laut, perawatan tanaman adalah sangat penting. Kegiatan perawatan meliputihal hal sebagai berikut:

* membersihkan tanaman dari kotoran yang melekat, endapan atau tumbuhan lain yang menempel;
* mengganti tanaman yang rusak dengan tanaman yang baru atau tanaman yang pertumbuhannya baik;
* memperbaiki konstruksi yang rusak seperti jangkar tercabut, atau tali-tali lepas atau putus.

rumputlaut.gif
Gambar 1. Rumput laut dalam masa pertumbuhan dengan metode rawai (long line method)

rumputlaut2.gif
Gambar 2. Rumput laut hasil panen yang siap dijemur

Tanaman sudah dapat dipanen dengan cara panen total (full harvest) setelah berumur 45 – 60 hari sejak ditanam. Panen dilakukan dengan cara mengangkat seluruh tanaman, sedangkan pelepasan tanaman dari tali ris dilakukan di darat. Penanaman kembali dilakukan dengan memilih bagian ujung tanaman yang masih muda dan bagian pangkal tanaman yang merupakan bagian yang tua dikeringkan karena memiliki kandungan karaginan yang tinggi.

Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara menggunakan alat pengering (oven) atau secara alami dengan menjemur dengan sinar matahari. Yang murah dan praktis adalah dengan cara dijemur dengan sinar matahari selama 2 – 3 hari, tergantung kondisi panas matahari. Dalam penjemuran ini harus menggunakan alas, seperti para-para, terpal plastik dan lain-lain untuk menghindari tercampurnya rumput laut hasil panen dengan kotoran seperti pasir atau kerikil dan lain-lain. Setelah kering dan bersih dari segala macam kotoran maka rumput laut dimasukkan kedalam karung plastik untuk kemudian siap dijual atau disimpan di gudang. Pada waktu penyimpanan hindari kontaminasi dengan minyak atau air tawar. Proses penjemuran dan penyimpanan sangat perlu mendapat perhatian, karena meskipun hasil panennya baik akan tetapi bila penanganan pasca panennya kurang baik maka akan mengurangi kualitas rumput laut.

PENUTUP

Budidaya Eucheuma sp dengan metode tali panjang saat ini merupakan metode yang paling baik dan efisien dibandingkan dengan metode lain. Rata-rata laju pertumbuhan rumput laut dengan metode ini di Propinsi Nusa Tenggara Barat sekitar 4% sampai 6% perhari. Petani/nelayan rumput laut di NTB yang menggunakan metode ini dengan mempunyai areal budidaya sekitar 5 are tiap bulannya mendapat tambahan penghasilan Rp. 350.000,-.





Kontak person:

Wisnu Sujatmiko
Direktorat Kebijaksanaan Pengembangan & Penerapan Teknologi II - BPPT
Gedung II BPPT Lt.15
Jl. MH. Thamrin No. 8, Jakarta 10340
Telp. (021) 316- 9418
Fax. (021) 316- 9516

Dekiru dake benkyo shite gamang shite gambarimasu...
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.